all of andyQ

what you get is what you share……….

Ayah dengan ikhtiar

Posted by Andik on October 9, 2010

Belum juga terpejam mata ini meski dua jarum itu kulihat berhimpit menunjuk keatas, ke angka yang paling besar. Tanganku sesekali mengusap lengan-lenganku, dingin memang, karena hujan telah turun sejak sore tadi. Apa yang kulakukan? Jari-jariku masih tuts di keyboard, sedangkan mataku masih melototi layar laptop tuaku. Pekerjaan ini sepertinya mengajakku menghabiskan malam, nggak papa -dalam hatiku-, toh ini juga untuk aku.

Waktu itu aku duduk tepat dimuka bufet tempat dia bersolek sedang dibelakangku tempat tidurnya, jadi sesekali mengetik, sesekali juga menatap wajahku. Duhh..kantung mataku mulai menghitam, sebenarnya sudah dua hari yang lalu sih. Kadang aku sembunyikan itu dibalik kacamataku, agar dia tidak melihatnya. Sebab, jika iya, bisa jadi kupingku yang menghitam kena omelannya.

Blukk…!! Kaget aku, guling itu terjatuh tepat dibawahku. Segera kuambil dan kukembalikan ke tempat semula, di samping dia sebelah kiri, karena yang sebelah kanan sudah ada guling satunya. Sambil menata agar bisa mengganjal tubuhnya, aku lihat wajah cantik itu, agak capek karena badannya kurang sehat gara-gara pilek. Kurebahkan tubuhku, dan mendekatinya sambil menata selimut itu. Kuperhatikan dia lebih dalam, aku bersihkan wajahnya dari rambut yang terurai karena jepitnya terlepas. Dia hanya mendesah..sambil memegang perutnya yang buncit. Pikirku, sebegitu keukeuhnya dia memegang perutnya. Aku tersenyum melihatnya, perut itulah yang dia inginkan sejak dulu, perjuangan yang tak henti waktu itu membuatnya bangga dan bersyukur, seperti halnya aku. Tuhan mendengar doa kami.

Memandangi dia saat terpejam adalah indah bagiku. Namun kadang perasaanku mengoyaknya dengan berbagi macam rasa, layaknya roti bakar bandung. Berkata hati, aku mencintaimu dengan sangat, seperti aku dulu membencimu dengan sangat. Lalu, aku bangga memilikimu yang mengurusku, memberiku calon buah cinta, dan menyediakan keningmu ketika aku akan berangkat kerja. Namun, maafkan aku, mungkin nanti cintaku mulai terbagi, terbagi dengan isi perut buncitmu. Begitulah selalu hati berkata…

Aku lihat lagi perut dia, tersadar kembali bahwa benar-benar aku ingin memaaf. Maafin ayah nak, ayah tidak tahu definisi terbaik, tapi inilah ayah dengan ikhtiar terbaik untuk jadi pamong kamu dan ibumu.

by Andik Yulianto on Thursday, July 1, 2010 at 1:45am

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: