all of andyQ

what you get is what you share……….

Kelahiran Jagoanku

Posted by Andik on November 12, 2010

Menunggu kelahiran seorang bayi adalah hal paling mendebarkan bagi setiap orang, namun entah kenapa bagi saya menjadi hal menyenangkan, dan sepertinya saya “agak” tenang menghadapi ini. Bagaimana tidak tenang, lha kalo semuanya panik, bagaimana jadinya??

Ini adalah pengalaman pertama saya, ya karena anak pertama saya yang akan lahir. Umur kehamilan istri saya sudah mencapai 9 bulan lebih, sejak dia (istri) umumkan pertama kali pada saya. Waktu itu mukanya agak pucat, karena baru saja saya menjemputnya dari pulang kerja shift malam di UGD sebuah rumah sakit. Namun wajahnya tidak cemberut seperti biasanya. Seperti hari-hari yang lain, kami berdua mampir sarapan bubur ayam favorit kami dekat tempat kerjanya. Dengan tenang di menyuruhku duduk dekatnya, sambil memegang tanganku, dia berbisik, “mama positif”. Aku agak tidak percaya, dan lalu menanyakannya kembali, “positif?”. “Iya..tadi dokter bilang mama positif”. Setengah teriak aku bilang “Alhamdulillahhh…setelah sekian lama menunggu”. Tukang buburnya menengok sambil tersenyum…

Waktu itu saya masih di kota tempat saya bekerja untuk mengurus sesuatu tentang sekolah saya, sedangkan istri ada dirumah mertua saya, seperti keinginannya. Rencananya sih cuma 2 minggu, bos saya sendiri menyarankan saya untuk cepat balik karena sudah mendekati kelahiran istri. Namun prakteknya lain, saya di sana lebih dari 2 minggu. Teman2 saya juga menyarankan untuk cepat balik saja, tapi kerjaan belum selesai. Masih banyak yang perlu diselesaikan, agar begitu saya balik ke Jawa tidak kepikiran kerjaan ini lagi. Ibu kos juga selalu menggoda saya dengan bilang kalo “anakmu dah lahir tuh…tapi ayahnya masih disini”. Banyak orang ngusir saya, tapi entah kenapa saya masih tenang menghadapinya, dan tetap saja bertahan. Dalam hati saya bilang “Tunggu ayah ya nak…”.

Memang kerjaan ga ada habisnya, dan benar, saya mulai kepikiran dengan kelahiran istri, akhirnya saya memutuskan untuk pulang tanggal 26 Agustus. Sesampai di Surabaya saya tidak langsung melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi, tapi mampir ke tempat kos saya. Ini dengan ijin istri. Sorenya saya pesan travel untuk malam hari nanti (kamis 26 Agustus), tapi ternyata penuh semua. Sekali lagi saya minta ijin lagi ke istri untuk pulang hari berikutnya, istripun meng-iya-kan, meski saya tahu dia agak khawatir juga. Dan akhirnya, Alhamdulillah saya dapat travel hari Jum’at malamnya. “Tunggu ayah nak..”

Jum’at 27 agustus, jam 19.30, seperti biasa saya menunggu travel di depan masjid dekat gang kosan saya. Agak telat nih…tidak sabar rasanya segera sampai rumah. Akhirnya travel datang juga, kali ini saya duduk paling belakang. Dan konsekuensinya, tempat duduknya tidak bisa disandarkan…duh..bakal sakit punggung lagi nih..

Sabtu, 28 Agustus, jam 04.35. Hujan agak deras hari ini. Setelah melalui perjalanan sekitar 6 jam akhirnya sampai juga dirumah. Seperti biasanya, ibu mertua saya yang membukakan pintu, tersenyum kadang tertawa kecil, dan selalu menanyakan “Piye kabare…sehat?”. Saya segera raih tangannya, dan mencium tangannya. “Alhamdulillah sae…”. Sedang dibelakang, istri sedang memegang perutnya yang besar, dan tersenyum. Aku hampiri dia, dengan segera dia raih tanganku dan menciumnya, sementara aku memegang kepalanya dan mencium keningnya. Lalu aku taruh tas berat itu, sambil berlutut, dan memegang perut itu, aku berbisik “Ayah sudah sampai nak…”

Sabtu, 28 Agustus, jam 20.45. Waktu itu kami berdua sedang bercanda di ruang makan. Namun tiba-tiba istri mengeluh perutnya mulas sekali. “Inikah saatnya?”, gumam saya. Tanpa pikir panjang, saya segera mengajak istri untuk pergi ke bidan, tempat yang sudah direncanakan untuk kelahiran anak kami. Tanpa menolak, istri langsung mengambil jaket, sedang aku persiapkan motor. Dan kamipun berangkat kesana. Cukup jauh tempatnya, maklum didesa.

Sabtu, 28 Agustus, jam 23.46. Rasa kesakitan masih terus mendera istri saya. Sambil memegangi perutnya, dia coba menyembunyikan rasa sakit itu, karena memang inilah yang dia inginkan sejak dulu, namun usahanya gagal. Sayapun sesekali mengusap dahinya sambil berkata, “sabar sayang..sebentar lagi”. Entah berapa kali dia kekamar mandi, frekuensi buang air kecilnya cukup lumayan. Apa memang begitu ya..

Minggu, 29 Agustus, jam 02.23. Kali ini dia benar2 mengerang, sayapun mulai panik. Kasihan melihatnya seperti itu, tapi saya sadar beginilah memang orang mau melahirkan. Saya kembali bangunkan asisten bidan yang kebetulan jaga waktu itu, “mbak istri saya kesakitan, tolong mbak diperiksa apa sudah waktunya?”. Segera asisten itu mengambil sarung tangan, dan mulai memeriksa…”masih buka 2 tuh mbak”. Wah kenapa bisa sakit sekali pikirku, baru 2 ternyata. “Tapi ketubannya kok tinggal dikit..”terus asisten itu. “Haaa…!!”, spontan aku teriak waktu itu. “waduh gmana nih mbak…baru 2, tapi ketubannya udah mau abis”. “Tak kasih obat aja ya..nanti masnya beli air kelapa muda trus diminumkan ke mbaknya”. Ternyata air yang dikeluarkan selama ini di kamar mandi adalah air ketuban!

Minggu, 29 Agustus, jam 07.05. Ibu mertua saya sudah datang, sayapun diminta untuk pulang dulu, mandi dan istirahat sebentar. Sedang istri saya minta dibawakan jarik lagi, karena jarik yang dipakai dan dibawakan oleh ibu mertua saya ternyata  masih kurang. Saya segera meluncur pulang, tak ada rasa ngantuk sedikitpun waktu itu, padahal tidak tidur sama sekali semalam, hanya badan agak melayang rasanya.

Minggu, 29 Agustus, jam 08.15. Saya sudah kembali lagi ke bidan tempat istri saya akan melahirkan. Tidak jadi tidur, karena saya benar-benar kepikiran, dan saya tidak mau melewatkan proses kelahiran anak saya. Saya harus ada disamping istri saat itu. Ternyata tempatnya jadi ramai, ada sahabat istri saya beserta suami datang menjenguk.

Minggu, 29 Agustus, jam 10.33. Air kelapa sudah diminum sejak pagi tadi, dan setelah diperiksa lagi air ketubanpun bertambah, hanya bukaannya tidak mau tambah, tetap di dua. “Yah…masa suruh nunda kelahiran sampe 3 minggu lagi?”, istri saya berbisik pada saya. “Haa..??”, saya kaget. “Aku ngga mau yah, ini rasanya udah sakit sekali…masa suruh nunggu lagi?”. “Iya..kalo dede mau keluar sekarang, dikeluarkan sekarang aja”. Entah alasan medis apa bidan meminta istri saya menunda kelahirannya, katanya sih biar lebih sempurna umurnya. Tapi saya pikir umurnya sudah cukup. Memang kelahiran saya dulupun kata ibu hampir hingga sepuluh bulan. Lha kalau melihat istri saya kesakitan seperti itu, kasihan juga. “Yah tadi sama bidan dikasih obat ini, kata dokter bunda di Batam itu obat penunda kelahiran, jadi ngga bunda minum”

Minggu, 29 Agustus, jam 15.30. Belum juga ada perkembangan bukaan, malah istri makin merasa mulas, kesakitan, dan semakin sering. Saya dan istri menolak untuk pulang.

Minggu, 29 Agustus, jam 19.45. Ibu mertua menyarankan saya untuk pergi ke habib untuk minta doa disana. Saya ikuti saja, dan saya pergi dengan paman saya malam itu. Sesampai disana, kami disambut dengan baik. Saya perhatikan orangnya masih muda, cakep, dan suka senyum. Paman kemudian memperkenalkan saya, “Abah ini suaminya wiwin yang pernah saya ceritakan dulu”. “Oooo…ini toh”. Lho, berarti selama ini istri dan keluarga sering silaturahmi kesini, bahkan saya juga pernah dibicarakan disini, kok bisa? Ternyata memang istri sudah kenal sejak tahun 2003, dan beliau adalah “guru spiritual” yang selalu memberikan siraman rohani pada istri dan keluarga, sebelum saya resmi jadi suaminya. Ehmm… Pamanpun mulai mengutarakan permasalahan pada Abah, cukup panjang perbincangan kami karena Abahpun orangnya asyik…ramah dan gaul. Hampir 2 jam kami berbincang tantang banyak hal soal agama, hingga akhirnya terputus karena dering hp saya. Istri minta segera balik lagi..

Senin, 30 Agustus, jam 00.17. Istri saya semakin mengerang kesakitan, kali ini mulai keluar darah di pahanya. Saya coba untuk tetap tenang, saya bangunkan kembali asisten yang jaga. Lagi-lagi dia bilang, “belum juga nambah mbak”. “Ya Allah…bagaimana ini, mudahkanlah urusan kami ya Allah, jangan Kau timpakan kepada kami cobaan yang tidak bisa kami pikul bebannya”. Istripun diinfus.

Senin, 30 Agustus, 05.22. Rasa sakit mulai menghilang, muncul lagi, hilang lagi, begitu seterusnya. Bidanpun segera turun tangan, setelah selama ini asistennya yang menangani istri saya. Akhirnya, keputusan itu bulat. Istri diberi obat perangsang agar segera melahirkan. Entah berapa suntikan diberikan lewat selang infus itu, 5 mungkin atau lebih, sementara istri masih kesakitan.

Senin, 30 Agustus, 10.10. Rasa sakit mulai menghebat, istripun mulai teriak. “Loh mbak..kenapa perutku rasanya seperti ini…ada yang mendorong-dorong”. Asistenpun mulai beranjak dari tempat duduknya, kali ini berdua. Orang-orang yang ada diruangan ini diminta untuk keluar, kecuali saya. Alat dan perlengkapan medik entah apa yang sudah disiapkan asisten itu, banyak sekali pikirku. Inilah saatnya, istri mulai merasa dede mau keluar, dan asistenpun mulai dengan aba-abanya. “Tarik nafas…dorong mbak!!”. Saya pegang tangannya, sementara tangan kiri memegang dahinya. “Ayo bun..bunda bisa, itu dedeknya udah mulai keluar…dikit lagi”. Istri wajahnya berubah menjadi merah padam.. “Mas, coba naik ke ranjang..bantu saya dorong ya”. Akhirnya saya naik keranjang, dan memangku kepala istri saya. Lagi-lagi, aba-aba itu semakin sering keluar… Sambil menyemangati istri, saya lihat jalan melahirkan istri saya. Kepala itu udah keluar separo…sayapun semakin gencar menyemangati istri saya. “Bunda dengarkan ayah…tarik nafas panjang..dorong!!!”. Tiba-tiba ada yang teriak “mas turun mas..”. Spontan saya langsung turun ranjang, dan… tubuh mungil itu ternyata sudah ada diluar dengan tali pusar yang belum dipotong. “Subhanallah…Alhamdulillah!!”. Tapi kok ga nangis…cuma ah..uh.., haduh gimana nih. Saya akhirnya goyang-goyang bayi mungil itu, sambil saya perhatikan kelamin dan jari-jarinya, saya bilang “ayo nak nangis yang keras…ayo teriak..!!”. Dan akhirnya “Oeekkk….” kerasnya tangisan itu membuat saya lega, sementara istri saya sudah lemas tak bersuara. Saya cium kening istri saya, “Dede dah keluar bun, laki-laki..mirip bunda”. Istripun tersenyum pada saya, dan wajahnya yang merah padam kembali cerah.. Dan sujud syukur pada-Mu ya Allah..

Senin, 30 Agustus, 10.40. Kamar belum begitu ramai, hanya bertambah ibu mertua dan bu lek, tapi wajah mereka sudah berubah, gembira. “Ndang yah..adzani dedek”. Sayapun ambil air wudhu, dan mengangkat bayi mungil itu tanpa rasa ragu dan takut, dan “Allahhu Akbar..Allahua akbar…”. Kumandang adzan dan iqomat tepat pada kedua telinga anak saya.

Allah benar-benar mempercayakan kami seorang anak laki-laki kuat dan sehat, mudahkan kami untuk merawat dan membesarkanya dan mendidiknya sesuai jalan-MU ya Allah..

Untuk anakku…selamat datang didunia jagoan kecilku..tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: