all of andyQ

what you get is what you share……….

[Katanya] Tahun baru…selamat menempuh hidup baru [sederhana] Bapak

Posted by Andik on December 31, 2014

Dipenghujung bulan Desember ini yang saya ingat adalah Bapak, kangen… jadi sepertinya hari ini adalah hari Bapak karena semua tertuju ke Bapak. Teringat dari beliau saya belajar ilmu bertahan hidup (survival) yang pada saat itu keadaan kami bener2 susah pokoke. Mungkin karena intuisi Bapak karena bekerjanya jaga keutuhan hutan, jadi dengan segala keterbatasan yang kami punya, kami masih bisa mampu melewati hari-hari. Menanam sayur, memelihara ayam, kelinci, itik hingga burung dara. Semuanya yang kami tanam dan pelihara tidak buat hobi lhoo…tapi untuk memenuhi kebutuhan makan kami, kalau-kalau gaji Bapak telat lagi atau kepotong banyak oleh hutang di koperasi kantor. Kalau sudah begini, yo wes merekalah yang kami potong…hehe…

Bapak adalah seorang pensiunan PNS Perhutani, pendidikannya SMP yang katanya ga lulus karena ga mampu nerusin dan harus ikut orang yang kebetulan juga pegawai Perhutani untuk menyambung hidup. Seorang pekerja keras, berdedikasi pada keluarga dan pekerjaannya. Baginya mendapatkan uang, makan, ya harus ‘berkeringat’. Begitu banyak cobaan yang dihadapinya dalam pekerjaan selama di Perhutani. Berbagai kecurangan dilakukan rekan-rekannya, bahkan oleh teman sendiri, hingga hasutan untuk berbuat tidak jujur juga banyak dialaminya. Entah karena lugu atau memang Bapak teguh, semuanya diabaikannya dan Alhamdulillah Bapak tetap pada jalurnya, meski beberapa kali dipindah-pindah lokasi kerjanya gara-gara tidak mau nuruti ajakan curang atasannya..semua diiyakan saja oleh bapak. Lagi-lagi Allah maha melihat, masih ada pemimpin yang memperhatikan beliau, dan justru memposisikan Bapak ditempat yang penuh berkah. Tetangga yang bisa menjadi saudara, hutan yang aman, dan lokasi yang tidak terlalu  jauh dari rumah kami. Terkadang sebagian hasil tanam warga sekitar hutan selalu ada didepan rumah dinas bapak, padahal bapak tidak pernah minta.

Yang paling saya kagumi adalah kesederhanaan beliau. Ya gimana ga sederhana, wong keadaane sudah susah…ah..enggaklah memang kami semua waktu kecil diajari “belajar prihatin”, sebuah filosofi yang tidak saya pahami waktu itu. Pernah terbesit, belajar kok prihatin (susah), memang ga pingin ya punya hidup yang enak? Ya sudah saya terima saja waktu itu…meski terkadang akhirnya kami dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan bapak, yang juga tetangga-tetangga kami karena kesederhanaan kami atau lebih tepatnya kesusahan kami. Disaat orang lain bisa beli sepeda federal baru untuk anak-anaknya, bapak cuma belikan sepeda bekas yang dicat lagi oleh bapak dan anak lakinya, bapak yang ngajari. Disaat tetangga kekantor naik sepeda motor honda baru, bapak masih setia sama yamaha 86 butut yang sering mogok…bahkan sempat membuat ibu kehilangan satu jari kelingking kakinya karena kecelakaan. Sindiran pedas ga jarang ditujukan ke bapak atau ibu, atau bahkan anak-anaknya….terutama saya yang ceking…yang dibilang kurang gizi. Ini penganiayaan namanya…wakkkaka….

bapak

Saya berontak, hingga saya sempat bersumpah, saya tidak boleh seperti ini, saya harus bisa lebih baik dari bapak, keluarga saya ngga boleh susah…paling tidak anak saya nanti tidak boleh merasakan apa yang saya pernah saya alami. Saya akan buktikan kalau “belajar prihatin” itu tidak perlu diikuti. Bertahun-tahun kesabaran bapak ternyata membuktikan sesuatu. Keadaan lambat laun membaik, bukan berbalik. Kami ga mau mengatakan keadaan berbalik meskipun kenyataannya rekan-rekan bapak yang dulunya sering menyindir kami makin tidak menentu kehidupannya, terlibat banyak kasus, mungkin juga merasakan apa yang kami rasakan dulu..tekanan… Kami tetap fokus dengan diri kami, bersyukur, meskipun kami tidak punya segalanya, tapi ya beginilah keluarga bapak…hidupnya tetep biasa. Maunya dimasa pensiunnya ga mau diam, pagi-pagi sudah ke sawah yang digarapnya sendiri. Ntar sore sudah dirumah jenguk peliharaannya…mboh wess…Saya juga kadang bertanya, sudah waktunya senang-senang, seperti kakek-kakek yang lain pergi melancong sana-sini melalui masa pensiunnya, kok ya masih mau-maunya rekoso mikirin sawah. Tapi dengan demikianlah bapak bahagia…tidak pernah bapak menunjukkan bahwa pengen ini, pengen itu….ya yang ada ini digunakan. Selalu dicontohkan bapak, bahwa

“jangan hidup menuruti keinginan tapi hiduplah karena kebutuhan. Hidup pas-pasan…pas butuh pas ada”.

Lambat laun pun saya mengerti “belajar prihatin” yang bapak ibu ajarkan berarti bukan kita nanti hidup untuk prihatin/susah, tapi memberi pengertian bahwa tidak selamanya hidup itu senang, ada saat senang ada saat susah, dan disaat susah kita bisa menghadapinya dengan baik. Mampu bertahan dan kemudian bangkit lagi. Tidak perlu mengada-ada yang tidak perlu ada, tapi selalu bersyukur dengan yang ada.

Besok pak menteri bilang bahwa PNS harus hidup sederhana, ya ngga salah…tapi sing diomong PNS sopo…nek bapakku diomongi koyo ngunu ye diesemi paling. BTW tetap kuucapkan selamat menempuh hidup baru [sederhana] nggih pak.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: